Kota Madiun, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak 160 km sebelah Barat Kota Surabaya, atau 111 km sebelah Timur Kota Surakarta. Di Kota ini memiliki pusat industri kereta api (INKA). Madiun dikenal mempunyai Landasan Udara Militer yaitu Lapangan Terbang Iswahyudi, yakni salah satu pangkalan utama Angkatan Udara Republik Indonesia AURI, meski sesungguhnya terletak sudah masuk di Kabupaten Magetan. Madiun mempunyai julukan Kota Gadis, Kota Brem, Kota Pelajar, Kota Sepur, Kota Pecel, Kota Budaya, Kota Sastra, Kota Industri dan Kota Kharismatik. Disamping itu Stasiun Madiun merupakan stasiun terbesar dan tertua ketiga di Jawa Timur.\
Pendapatan
Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan pada tahun 2006 tercatat sebesar Rp 937
miliar.sedangkan atas Harga sebesar Rp 1,687 triliun. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 198.745 jiwa (per 2006)], pendapatan per kapita rata-rata kota sudah mencapai Rp
8,4 juta per tahun jika didasari PDRB atas Harga Berlaku.
Kekuatan
anggaran pemerintah kota madiun (APBD) pada tahun 2007 telah mencapai Rp 854 miliar, dimana
Rp 87 miliar untuk belanja publik. Jikalau dibandingkan dengan jumlah penduduk,
APBD per kapita mencapai Rp 900 ribu per tahun.
Posisinya yang
cukup strategis menjadikan Madiun berada di jalur poros utama Surabaya-Yogyakarta.
Kota ini juga menjadi persimpangan jalur menuju Ponorogo dan Pacitan ke arah
selatan. Akan direncanakan pula oleh pemerintah Jawa Timur untuk membangun jalan tol atau jalan
bebas hambatan dari Kota Surakarta (Tanpa lewat Kota Sragen dan Ngawi) lurus terus ke
barat laut sampai di Maospati, Magetan lalu kemudian di teruskan sampai Kota Madiun dan berlanjut lurus ke timur laut melewati Kota Nganjuk sampai di Waru, Sidoarjo
(Saling Berhubung dengan Tol Surabaya-Gempol), hal ini bertujuan untuk membangun Kota
Madiun sebagai kota metropolitan atau kota singgah yang diharapkan dapat
membantu permasalahan kepadatan Kota Surabaya. Oleh sebab itu, Kota Madiun ditetapkan
sebagai wilayah hinterland atau pusat ekonomi untuk daerah sekitarnya dalam
Rencana Tata Ruang dan Wilayah (Perda No 6/2007).
Selama periode
2003-2008, sektor-sektor primer mengalami kenaikan dari 2,61% menjadi 3,18%.
Sektor sekunder (industri) juga mengalami kenaikan dari 40% menuju 59%. Sektor
tersier meningkat dari 57,32% menjadi 58,45%, yang semakin menegaskan arah
pertumbuhan Kota Madiun sebagai pusat perdagangan untuk daerah Jawa Timur.
Sebagai pusat
perekonomian Jatim bagian barat, angkutan antar kota dilayani oleh adanya Bus dan
kereta api. Angkutan bus dilayani di Terminal Purboyo dan Terminal Te'an. Madiun dilintasi jalur kereta api lintas selatan Pulau Jawa. Stasiun Madiun
merupakan salah satu stasiun terbesar ketiga di kawasan Jawa Timur setelah stasiun
Surabaya Kota dan Malang Kota Lama sekaligus stasiun tertua ketiga juga, dan
terdapat pusat industri kereta api Indonesia (PT INKA).
Persentase penduduk miskin di Kota Madiun jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan persentase penduduk miskin di Jawa Timur. Sejak terjadi penurunan persentase penduduk miskin pada tahun 2004 di Kota Madiun yaitu dari 7,9 menjadi 7,1 selanjutnya pada tahun-tahun berikutnya persentase penduduk miskin selalu mengalami penurunan seperti yang diharapkan oleh pemerintah. Tahun 2005 penduduk miskin Kota Madiun turun 2,74 persen dari tahun 2004 disaat penduduk miskin di Jawa Timur naik sebesar 3,44 persen. Kemudian turun secara sangat signifikan pada tahun 2006 menjadi 6,32 dan tahun 2007 menjadi 5,49 persen.
Kota Madiun dilintasi oleh Jalan raya Solo-Surabaya. sehingga memiliki Terminal Bus Purboyo yang terletak di Jalan Basuki Rahmat, Madiun. Kota Madiun juga dilalui oleh rel kereta api, yang menghubungkan kota ini dengan Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, yang berpusat di Stasiun Madiun. Stasiun Madiun juga memberangkatkan Kereta api sendiri, yaitu KRDI Madiun Jaya, tujuan Solo-Balapan dan Yogyakarta. Kini ada juga KRDI Arjuna tujuan Surabaya Gubeng. Lalu pada 24 Juli 2013 PT. KAI mulai membuat trayek baru jurusan Madiun-Stasiun Merak yang sampai sekarang masih beroperasi.
Kota Madiun
terdiri atas 3 kecamatan, yaitu Kartoharjo, Manguharjo, dan Taman.
Sejarah Kota Madiun
Madiun merupakan
suatu wilayah yang dirintis oleh Ki Panembahan Ronggo Jumeno atau biasa disebut
Ki Ageng Ronggo. Asal kata Madiun dapat diartikan dari kata "medi"
(hantu) dan "ayun-ayun" (berayunan), maksudnya adalah bahwa ketika
Ronggo Jumeno melakukan "Babat tanah Madiun" terjadi banyak hantu
yang berkeliaran. Penjelasan kedua karena nama keris yang dipunyai oleh Ronggo
Jumeno bernama keris Tundhung Medhiun. Pada mulanya bukan dinamakan Madiun,
tetapi Wonoasri.
Sejak awal
Madiun merupakan sebuah wilayah di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram. Dalam
perjalanan sejarah Mataram, Madiun memang sangat strategis mengingat wilayahnya
terletak di tengah-tengah perbatasan dengan Kerajaan Kadiri (Daha). Oleh karena
itu pada masa pemerintahan Mataram banyak pemberontak-pemberontak kerajaan
Mataram yang membangun basis kekuatan di Madiun. Seperti munculnya tokoh Retno
Dumilah.
Beberapa
peninggalan Kadipaten Madiun salah satunya dapat dilihat di Kelurahan Kuncen,
dimana terdapat makam Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Patih Wonosari selain
makam para Bupati Madiun, Masjid Tertua di Madiun yaitu Masjid Nur
Hidayatullah, artefak-artefak disekeliling masjid, serta sendang (tempat
pemandian) keramat.
Kota Madiun
dahulu merupakan pusat dari Karesidenan Madiun, yang meliputi wilayah Magetan,
Ngawi, Ponorogo, dan Pacitan. Meski berada di wilayah Jawa Timur, secara budaya
Madiun lebih dekat ke budaya Jawa Tengahan (Mataraman atau Solo-Yogya), karena
Madiun lama berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram.
Pada tahun 1948,
terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh PKI di Madiun yang dipimpin oleh
Musso di daerah Dungus, Wungu, Kabupaten Madiun yang sekarang di kenal dengan
nama Monumen Kresek.
Sosial dan
budaya
Nasi Pecel
merupakan makanan khas Kota Madiun.
Pada 2007,
jumlah penduduk Kota Madiun mengalami pertumbuhan yang signifikan rata-rata sebanyak 5 persen.
Jumlah penduduk berdasarkan usia cukup dinamis. Usia di bawah 15 tahun, jumlah
penduduk laki-laki lebih tinggi dari jumlah perempuan, tetapi untuk usia antara
15 sampai 19 lebih banyak perempuan. Demikian juga untuk usia 50 tahun ke atas,
jumlah perempuan jauh lebih besar dari pada jumlah laki-laki.
Dalam periode
2003-2007, rata-rata lama sekolah di Madiun mencapai 9,5 sampai 10,32 tahun
atau sampai kelas 10 (setingkat SLTP). Masih jauh dari kebutuhan SDM untuk
mendukung pertumbuhan sebuah kota yang berbasis sektor jasa dan perdagangan.
Namun, angka tersebut jauh di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur yang mencapai
6,5 sampai 7,06 tahun.
Madiun terkenal dengan produk unggulannya makanan brem. Salah satu makanan khas Madiun adalah Pecel Madiun, serta sambel pecel madiun.
